Hingga kini baru 10 persen stasiun kereta Jepang yang ramai (kunjungan 100.000 pengguna kereta per hari) yang telah memasang pagar pengaman di platform tempat tunggu kereta api. Kementerian Pertanahan, Prasarana, Transportasi, dan Pariwisata Jepang juga akan membentuk kelompok studi untuk mempertimbangkan langkah langkah keamanan untuk stasiun tanpa pintu pagar pengaman, untuk mencegahnya jatuh dari peron stasiun. Pemasangan pintu pengaman (pagar) di stasiun sedang dipromosikan terutama di stasiun dengan lebih dari 100.000 pengguna per hari.

Tetapi hingga akhir Maret 2020, baru sekitar 10 persen stasiun di seluruh negeri telah dipasang. Menurut Kementerian Pertanahan, Prasarana, Transportasi, dan Pariwisata, jumlah orang yang jatuh dari peron stasiun pada tahun 2018 mencapai 2.789 orang secara nasional. Pada bulan Juli 2020, di Stasiun JR Asagaya di Suginami ku, Tokyo, di mana tidak ada pagar yang dipasang saat itu, seorang pria tunanetra jatuh dari peronnya dan ditabrak kereta api langsung meninggal.

Pada pertemuan tanggal 25 September lalu, Menteri Pertanahan, Prasarana, Transportasi, dan Pariwisata Kazuyoshi Akaba mengatakan, "Di stasiun yang pagarnya tidak dirawat, kami akan membentuk kelompok belajar untuk penggunaan agar aman dari perangkat keras dan perangkat lunak." Sebuah kelompok belajar akan dibentuk bulan depan untuk membahas langkah langkah keamanan seperti mekanisme pengawasan bagi orang orang tunanetra ketika mereka melewati gerbang tiket dan sistem untuk segera memberi tahu staf stasiun jika ada orang yang jatuh, dan mengumumkan hasilnya. Sementara itu telah terbit Buku "Rahasia Ninja di Jepang", pertama di dunia cerita non fiksi kehidupan Ninja di Jepang dalam bahasa Indonesia, silakan tanyakan ke: [email protected]