Begini Nasib Sang Bayi Hamil & Idap Gangguan Jiwa Kisah Pilu Janda Diperkosa di Depan Anak

Nasib malang menimpa janda berinisial IN (35), warga Nunukan Kalimantan Utara yang merupakan merupakan korban pemerkosaan sejumlah pria. Ironisanya, peristiwa pemerkosaan yang dialami IN itu dilakukan di depan anak perempuannya, VR (6). Akibat pemerkosaan itu, IN pun hamil.

Nahasnya karena indisiden itu begitu membekas, IN pun trauma dan mengidap gangguan jiwa. IN diperkosa berkali kali di bangunan usang eks Kantor Imigrasi dan di kapal rusak tak terpakai di pesisir pantai jalan Lingkar Nunukan. Kedua tempat tersebut merupakan tempat tinggal IN yang dietahui sering pundah pindah, karena ia sebenarnya berasal dari Pinrang Sulawesi Selatan

"Perbuatan itu dilakukan dengan disaksikan anaknya, itu sangat mengerikan, sang anak kami tanya juga bercerita apa yang dilihatnya, Ada banyak yang melakukan itu disaksikan si anak, ini menjadi bahan pemikiran kami," kata Sekretaris Dinsos Nunukan Yaksi Belaning Pratiwi. Saat pertama kali ditemukan Dinas Sosial Nunukan, Kalimantan Utara, di salah satu perahu bekas di pinggir pantai jalan Lingkar Nunukan Selatan, IN selalu memegang tangan anaknya dan membawa tas kecil.

Saat diperiksa, ternyata dalam tas itu terdapat banyak nomor telepon orang yang diduga adalah pemain narkoba. Diduga, selain karena pemerkosaan, mental IN juga terganggu akibat korban perceraian dan juga seringnya dicekoki narkoba. Hal tersebut terungkap dari hasil asesmen yang dilakukan Dinas Sosial Nunukan.

Persoalan pertama, dia adalah korban perjodohan orangtua yang berakhir dengan perceraian. Kedua ia menikah dengan kurir narkoba dan terseret dalam pusaran pemain narkoba sampai membuatnya fikirannya terganggu akibat kandungan kimia narkoba. Dan yang ketiga, ia mengalami peristiwa yang mengguncang batinnya, apalagi diduga ia diperkosa disaksikan putrinya oleh sejumlah orang tak bertanggung jawab, sampai akhirnya hamil dan melahirkan.

"Menurut polisi, IN kemungkinan akan dijadikan kurir narkoba dan tidak menutup kemungkinan otaknya terganggu akibat narkoba juga," ujar petugas Dinsos. Dalam keadaan hamil, IN pun dirawat di Dinsos Nunukan. Setelah melahirkan, IN dan bayinya yang berusia tiga bulan saat ini tinggal di rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC).

Namun rupanya, IN enggan dipisahkan dari sang bayinya. Petuga pun berkali kali membujuk IN (35), orang dengan gangguan jiwa ( ODGJ) yang menjadi korban pemerkosaan disaksikan anaknya hingga hamil dan melahirkan, agar mau melepas bayinya. Meski terkesan tak manusiawi memisahkan sang anak dan ibunya, pihak dinsos tidak mungkin membiarkan ODGJ merawat bayinya.

Pasalnya, jika sang bayi dibesarkan oleh seorang ibu dengan kondisi mental tidak stabil, dikhawatirkan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. "Lebih baik selamatkan bayinya daripada ibunya agar generasi selanjutnya bagus, tapi harus terus kita doktrin supaya mindsetnya berubah, Kita akan segera buat MoU untuk rehabilitasi IN ke Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Mental (BRSPDM) Budi Luhur Banjar Baru, semoga tahun depan terlaksana," kata Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Nunukan Yaksi Belaning Pratiwi, Sabtu (15/8/2020).

Bahkan, hingga kini IN belum mengalami perubahan perilaku setiap kali petugas Dinsos datang. IN pun masih sering berbicara dengan tembok sambil sesekali tertawa dan marah tanpa sebab. Dengan kondisi psikis IN yang masih sering lepas kendali, membuat petugas harus lebih ekstra menjaganya.

Bukan hanya itu, keberadaan bayi IN juga menyulitkan petugas, baik susu atau urusan mandi dan membersihkan si jabang bayi mendapat perhatian khusus. "Kalau buat susu pagi, bukan dia buang kalau tidak habis, dia kasihkan lagi sampai malam, itu kan tidak sehat, kami sering datang bergantian untuk awasi si bayi, kami kasih mandi dan gantikan air susu dalam dotnya," ujarnya. Sementara, VR (6) anak pertama IN sudah disekolahkan di Lembaga Kesejahteraan Anak (LKSA) Aisyiyah Ruhama. Ia kini dirawat di Panti Asuhan Aisyiyah Ruhama.

Sekretaris Lembaga Kesejahteraan Anak (LKSA) Ruhama, Asrina mengatakan, selama dalam perawatan kondisi VR tampak bergembira. "Kalau sama ibunya, dia pasti melihat ibunya ketika ada siapa saja yang mendekat, memang mereka tidak bisa dipisahkan," ujar Asrina kepada wartawan, Jumat (14/08/2020). Kata Asrina, untuk membawa VR, butuh pendekatan khusus dan membicarakan masa depan anaknya kepada IN.

Pasalnya, setelah lebih dua jam berpisah dari anaknya emosi IN sulit terkontrol dan terus berusaha mencari keberadaan sang anak. "Kita antar pukul 07.00 nanti kita pulangkan pukul 10.00 Wita. Kalau terlalu lama tidak lihat anaknya kita khawatir dia pergi dari RPTC mencari anaknya sambil membawa bayinya," katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *