Lezatnya Nasi Uduk Bu Tati, Kuliner Legendaris di Tanah Abang Jakarta Pusat

Ada satu warung makan yang menghiasi tepi jalan di JalanKebon Kacang, Tanah Abang. Satu kuliner ini tersohor dari mulut ke mulut yakni Nasi udukKebon Kacang. Nasi uduk ini bisa dibilang kuliner yang wajib dicoba.

Sebab, sudah banyak orang yang merekomendasikannasi udukKebon Kacangbila berada di Jakarta karena lezat. Saya pun memilih menyantap diWarung Makan Nasi Uduk Ibu TatiPuas Hati yang fotonya terpampang di spanduk. Duduk di kursi panjang, saya langsung disodorkan kertas menu oleh pelayan. Menariknya, pelayan itu meminta saya untuk memesan lauknya saja.

Sebab,nasi udukyang dibungkus daun pisang itu sudah tersedia di atas meja. Jadi, pengunjung bisa mengambilnasi udukitu sepuas hati, sesuai namanya. Saya pun memesan lauk paru goreng, usus, tahu dan ayam goreng. Aneka lauk yang sudah dimasak itu kemudian diletakkan di dalam satu piring. Bumbu kacang di piring kecil berada di samping piring nasi saya.

Tak lengkap bila tidak ada bumbu kacang khas nasi uduk Betawi itu. Ketika menyantap sesuapnasi uduk, rasa harum santan dan daun pisang terasa di mulut. Nasinya juga terasa gurih. Tektsur nasinya pulen empuk ketimbangnasi udukyang memakai beras pera. Bumbu kacangnya juga tidak terasa pedas. Warna bumbu kacangnya mirip seperti bumbu siomay yang berwarna coklat tua. Bedanya, teksturnya lebih kasar karena masih ada biji biji kacang yang tidak dihancurkan.

Sedangkan, paru dan ususnya memang digoreng garing. Rasa asin kurang terasa dan agak alot tapi tetap enak dan pas disandingkan dengannasi uduk. Untuk ayam gorengnya, bisa dibilang memiliki rasa yang juga khas. Daging dan kulit ayam selain gurih ada rasa manis. Sebab, ayam ungkep itu direndam air kelapa sebelum digoreng.

Menurut Paul Kadarisman (66), pemiliknya, tempat makannasi udukIbu Tati Puas Hati dibangun bersama mendiang almarhumah istrinya, Hartati sekira tahun 2000. Memang, warung makannasi uduknya bukan yang tertua di sana. Sebelumnya, sudah ada Nasi Uduk Kakek H. Suryadi, yang diklaim pertama kali jualannasi udukdi Kebon kacang. Setelah itu ada lagi, Bang Hamid yang berjualannasi udukdengan ayam goreng. Kini diteruskan oleh anaknya, Zaenal Fanani. Terakhirnasi udukH Babeh Saman.

Cerita awal mereka bisa membangun usahanasi udukketika Paul dan Tati, panggilan istrinya, sering mengikuti arisan keluarga setiap bulan. Pihak saudara meminta dibawakannasi udukKebon Kacang. "Jadi kebetulan saudara saudara mintanasi udukayam goreng kebon kacang. Saya bilang ke istri daripada beli sana beli sini, bikin aja sendiri."

"Saya minta istri bikin sendiri, saudara pada makan. Abis pada makan, pada nambah. Ini bukan masakan babe Saman, Bang Hamid dan kakek Suryadi tapi masakan sendiri, "Lo dagang, lo pasti maju" kata saudara gitu," kenang Paul. Seiring berjalannya waktu,nasi udukIbu Tati mulai dikenal banyak orang. Dari mulut ke mulut, keberadaannasi udukini mulai tercium warga Ibu Kota. Bahkan, lanjut Paul, Keluarga Cendana, sebutan populer untuk keluarga Presiden Soeharto, menjadi langganannya.

Kini, warungnya sepi pengunjung. Dampak pandemi Covid 19 turut membuat usahanya turun drastis sebanyak 80 persen. Di masa transisi jelang normal baru, ia berharap harumnasi uduknya mulai tercium kembali oleh warga Ibu Kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *