Linda Sari Pentingkan Masa Depan Korban Dianiaya Abdul Mihrab Karena Bela Keponakan yang Disiksa

Perbuatan kejam Abdul Mihrab (40) rupanya turut dirasakan sang adik, Linda Sari (29). Linda Sari yang berusaha membela keponakannya RPP itu ikut dianiaya Abdul Mihrab. Akibatnya, Linda Sari mengalami sejumlah luka di tubuhnya.

Seperti diketahui, aksi Abdul Mihrab menganiaya anak kandungnya RPP hingga berdarah sempat viral di media sosial. Aksinya tersebut direkam oleh keluarganya sendiri, yang tak tega melihat perlakuan Abdul saat menyiksa RPP pada Rabu (22/7/2020) malam. Video tersebut viral hingga tak lama berselang, jajaran Satreskrim Polrestro Jakarta Timur mengamankan Abdul di kediamannya pada Kamis (23/7/2020) dini hari.

Abdul Mihrab telah diamankan, kini Linda Sari menceritakan perbuatan kejam sang kakak yang turut dialaminya. Linda menceritakan, perlawanan dilakukannya saat membela RPP dari penganiayaan yang dilakukan Abdul Mihrab (22/7). Lemparan bangku kayu rakitan dengan panjang sekitar 25 sentimeter itu lantas mengakibatkan bagian dahi Linda memar cukup parah.

Meski terluka dan kalah tenaga, Linda Sari tetap berusaha menyelamatkan RPP, dia memaki dan mengancam melaporkan Abdul ke polisi. "Dia (Abdul) juga sempat melemparin saya pakai botol kaca, tapi untungnya enggak kena. Saya berhasil menghindar, kalau yang dilempar bangku kena," beber Linda Sari. Kendati mengalami penganiayaan, Linda Sari urung melaporkan Abdul Mihrab kepada polisi.

Padahal Penyidik Satreskrim Polrestro Jakarta Timur telah memberitahukan, Linda juga bisa melapor sebagai korban penganiayaan Abdul. "Tapi karena fokus saya yang penting anak ini (RPP), jadi saya enggak buat. Kalau di kasus Abdul saya sebagai pelapor, kembaran saya jadi saksi," aku Linda Sari. Linda menyatakan, tak masalah luka akibat terkena lemparan bangku, dia kini hanya memikirkan bagaimana agar RPP memiliki masa depan cerah.

Pihak keluarga juga berharap jajaran Satreskrim Polrestro Jakarta Timur segera menetapkan Ade Rohmah Widyaningsih (40) jadi tersangka. Ade yang berstatus istri siri Abdul tak hanya diam saat RPP dianiaya, dia sudah lama memaksa RPP bekerja hingga menelantarkannya. Buruknya perlakuan Abdul dan Rohmah membuat bocah warga Kecamatan Duren Sawit itu hingga kini masih trauma dan ketakutan.

"Saya juga baru tahu kalau anak ini dipaksa kerja pas saya tanya. Katanya pagi dipaksa bangun, ikut ibunya kerja jadi asisten rumah tangga. Makanya saya mau dia dipenjara juga," terang Linda Sari. Tante RPP, Linda Sari, perlakuan buruk yang kerap kali diterima keponakannya itu. Selain dianiaya, RPP kerap kali ditinggal pergi jalan jalan oleh orangtuanya.

"Kalau Abdul, ibu (Rohmah), sama anak kandung ibunya pergi jalan jalan korban ini enggak pernah diajak. Pernah pas mereka pergi korban dikunciin , akhirnya tidur di tempat nenek," beber Linda Sari. Lebih lanjut, Linda Sari menuturkan sikap Abdul dan istrinya yang memaksa anak bekerja. Abdul Mihrab (40) bersama istri sirinya Ade Roma Widyaningsih kerap kali membangunkan RPP pukul 08.00 WIB lalu membawa putri kandung itu ke rumah bosnya untuk bekerja.

Di sana, Rohmah meminta RPP membuang sampah dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lain yang harusnya tak dikerjakan korban. "Kalau ditegur alasannya untuk mendidik anak. Padahal anak kandungnya yang usia 10 tahun enggak disuruh kerja," ujar Linda Sari. Linda menilai, tak seharusnya RPP yang sejak kecil tak pernah disekolahkan Abdul dieksploitasi demi meringankan pekerjaan Rohmah.

Pasalnya, selain bekerja jadi asisten rumah tangga, Rohmah yang juga bekerja di tempat fotokopi kerap memanfaatkan tenaga RPP. Rohmah diketahui sering baru membawa pulang RPP pada subuh hari dalam keadaan lelah karena dipaksa bekerja dan kelaparan tak diberi makan. Linda dan anggota keluarga lain menilai Rohmah yang hingga kini belum ditetapkan jadi tersangka menghasut Abdul agar menganiaya RPP.

Termasuk saat RPP yang tercatat warga Kelurahan Pondok Kopi, KecamatanDuren Sawitdianiaya pada Rabu (22/7/2020) oleh Abdul. "Sebelum Abdul sama istri sirinya sekarang dia enggak pernah menyiksa anaknya. Tapi setelah sama istrinya sekarang sikapnya berubah drastis, sampai tega mukul," aku Linda Sari. Tante RPP, Linda Sari (29) mengatakan bahwa keponakannya berharap bisa belajar sebagaimana anak anak sebayanya yang bernasib lebih mujur.

"Dia ngomong 'Aku ingin kayak orang orang, bisa sekolah. Jadi aku enggak main terus di rumah' begitu," kata Linda menirukan ucapan RPP di Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (25/7/2020). RPP bisa belajar di PAUD pun bukan berkat Abdul, melainkan dibiayai sang nenek, Narti (64) yang merupakan ibu kandung Abdul. "Dulu pas ibu saya (Narti) masih sehat didaftarkan di PAUD. Tapi semenjak ibu stroke enggak sekolah lagi. Kalau ayahnya enggak ada usaha nyekolahin ," ujarnya.

Linda menuturkan pihak Kelurahan Pondok Kopi sudah menawarkan bantuan agar RPP bisa melanjutkan pendidikan di Pesantran. Namun, RPP lebih berharap agar dia bisa melanjutkan pendidikan di SD agar bisa bersama keluarga besarnya yang masih warga Duren Sawit. "Maunya sekolah biasa saja, biar masih bisa ketemu keluarga. Tapi Alhamdulillah banyak yang perhatian, kemarin Kak Seto datang ke sini juga, nemui anaknya," tuturnya.

Linda menyebut Kak Seto datang pada Jumat (24/7/2020) guna memastikan RPP dapat pendampingan psikologis untuk pulih dari trauma. Pada Minggu (26/7/2020) rencananya Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Arist Merdeka Sirait juga datang menemui RPP. "Kemarin pas Kak Seto datang dia (RPP) bilang mau sekolah lagi dan cita citanya mau jadi dokter. Dari pihak keluarga juga maunya anak ini bisa sekolah lagi," aku Linda.

Alami trauma Tante RPP, Linda Sari (29) mengatakan bahwa keponakannya hingga kini masih diliputi ketakutan dan belum bisa tersenyum layaknya anak seusianya. "Masih trauma, enggak mau ketemu ayah sama ibunya. Masih takut, pikiran dia ayahnya keluar dari penjara terus mukulin dia lagi," kata Linda di Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (25/7/2020).

Bukan tanpa sebab, selama berbulan bulan sudah tak terhitung Abdul menganiaya RPP yang merupakan putri kandungnya. Dari dipukuli menggunakan tangan, sandal, kepalanya dilelapkan ke bak mandi, hingga rambutnya dijenggut lalu disertai pernah dialami. Perlakuan Rohmah yang merupakan istri siri Abdul pun tak lebih baik, dia kerap memarahi RPP, memaksanya bekerja, hingga ditelantarkan.

"Waktu ayah sama ibunya diperiksa di Polres dia ketakutan, enggak mau dekat mereka. Maunya dekat sama saya, karena sering dianiaya jadi takut," tuturnya. Pihak keluarga besar RPP sendiri belum sepenuhnya merasa lega karena baru Abdul yang menyandang status tersangka, sementara Rohmah belum. Pun Rohmah tak pulang ke kontrakan tempat RPP kini berada, Linda berharap Rohmah ikut mendekam dalam penjara sebagaimana Abdul.

"Saya maunya perempuannya ini dipenjara juga, karena selama ini dia nyuruh keponakan saya buat kerja. Biar timbul efek jera dan enggak terjadi kasus lainnya," tuturnya. Ibu kandung Abdul, Narti (64) juga meminta jajaran Satreskrim Polrestro Jakarta Timur menetapkan Rohmah sebagai tersangka kekerasan terhadap RPP. Dia hanya berharap RPP yang merupakan cucu keduanya dapat melanjutkan pendidikan dan memiliki masa depan cerah.

"Dua duanya harus dipenjara, jangan cuma satu doang. Kasihan cucu saya masih trauma, sering dianiaya. Biar saja dua itu (Abdul dan Rohmah) dipenjara," kata Narti. Ditemui di kontrakan tempatnya mengalami kekerasan dari orangtuanya, RPP tampak belum bisa tertawa lepas sebagaimana anak umumnya. RPP tampak murung dan lebih banyak diam, hanya sesekali dia tertawa saat bermain dengan dua keponakannya yang masih berusia balita.

Saat ditanya Linda perihal eksploitasi yang dilakukan Rohmah kepadanya dengan memaksa ikut mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sambil tertunduk RPP menjawab dia kerap dipaksa bangun pagi hari untuk meringankan pekerjaan Rohmah sebagai asisten rumah tangga. "Disuruh buang sampah, sampahnya berat," kata RPP sambil tertunduk layaknya orang ketakutan.

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait mengatakan Rohmah dapat dijerat pasal 76B dan 76C UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Pasal 76B berisi setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam situasi perlakuan salah dan penelantaran. Sementara Pasal 76C berisi setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap anak.

Rohmah juga harus dijerat pasal 80 Ayat 4 karena meski berstatus istri siri Abdul tapi tetap merupakan orangtua bagi RPP. Yakni pasal yang mengatur bahwa hukuman pelaku kekerasan terhadap anak diperberat sepertiga dari pidana bila pelaku merupakan orangtua. "Ibu tirinya bisa dijerat pasal tersebut juga. Tidak ada toleransi terhadap segala bentuk kekerasan. Ini untuk memberi efek jera terhadap pelaku kekerasan terhadap anak," kata Sirait.

Nahas RPP mungkin butuh waktu lama untuk pilih dari kekerasan yang dilakukan orangtuanya karena Rohmah belum ditetapkan jadi tersangka. Kasat Reskrim Polrestro Jakarta Timur AKBP Imron mengatakan setelah diperiksa sejak Kamis (23/7) hingga kini Rohmah masih berstatus saksi. "Tetap saksi," kata Imron saat dikonfirmasi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *