RUU HIP & Virus HIV

Apa bedanya RUU HIP dengan virus HIV? Bedanya, RUU HIP adalah Rancangan Undang Undang Haluan Ideologi Pancasila yang masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2020 2024 dan pada 12 Juni 2020 lalu disahkan Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI sebagai usul inisiatif Dewan. Sedangkan HIV adalah Human Immunodeficiency Virus atau virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang selanjutnya melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit.

Lalu, apa persamaannya RUU HIV dengan virus HIV? RUU HIP dan virus HIV sama sama menakutkan. RUU HIP ditakutkan akan menyebarkan virus komunisme yang dapat melumpuhkan sendi sendi kehidupan bangsa ini. Sedangkan HIV ditakutkan akan menularkan AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome atau kondisi di mana HIV sudah pada tahap infeksi akhir.

Ketika seseorang sudah mengalami AIDS, maka tubuh tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan infeksi yang ditimbulkan. Mengapa HIV ditakutkan? Karena ia seperti Coronavirus Disease 2019 atau Covid 19 yang hingga saat ini belum ada vaksin, obat, atau metode penanganannya yang tepat. Mengapa RUU HIP ditakutkan, termasuk oleh sekelompok massa yang pada Rabu (24/6/2020) lalu menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, yang diwarnai dengan pembakaran bendera Palu Arit yang identik dengan lambang Partai Komunis Indonesia (PKI), dan bendera PDI Perjuangan yang selalu diasosiasikan dengan PKI?

Ya itu tadi, dikhawatirkan akan membangkitkan komunisme dan menyebarkan virus komunisme ke sendi sendi kehidupan bahkan seluruh tubuh bangsa ini. Akibatnya, Indonesia bisa lumpuh. Lalu, apa saja indikasi kebangkitan komunisme tersebut? Pertama, Ketetapan MPRS No XXV Tahun 1966 tentang PKI, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Bagi PKI, dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Paham atau Ajaran Komunisme Marxisme Leninisme, tidak dijadikan konsideran atau rujukan dalam penyusunan RUU HIP.

Kedua, ada dugaan “pemerasan” sila sila dalam Pancasila menjadi Trisila (tiga sila) bahkan akhirnya Ekasila (satu sila), yakni gotong royong yang sering dikonotasikan dengan paham dan ideologi sosialisme dan komunisme. Apa itu Trisila? Ialah Sosio Nasionalisme, Sosio Demokrasi, danKetuhanan yang Berkebudayaan. Adapun Ekasila adalah Gotong royong.

Dugaan “pemerasan” Pancasila menjadi Trisila bahkan Ekasila ini berpotensi melanggar Pancasila. Ironisnya, RUU HIP ini justru diinisiasi oleh PDIP yang kerap mengklaim sebagai parpol Pancasilais, bahkan lebih Pancasilais dari parpol parpol lainnya. Mengapa komunisme atau PKI masih menjadi "hantu" bagi bangsa ini? Sebab, mereka suka menusuk dari belakang, justru di saat bangsa ini sedang kerepotan.

Pada 1948, misalnya, PKI yang dipimpin Muso melakukan pemberontakan di Madiun, Jawa Timur. Padahal saat itu Indonesia sedang menghadapi agresi militer Belanda. Pada 30 September 1965, PKI yang dipimpin DN Aidit kembali melakukan pemberontakan di Jakarta yang dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September 1965 atau G 30 S/PKI dengan menculik tujuh jenderal yang bertujuan mengambil alih kekuasaan atau "coup d'etat" (kudeta) dari tangan Presiden Soekarno. Padahal saat itu Indonesia sedang menghadapi konfrontasi dengan Malaysia.

Apakah saat ini anasir anasir PKI masih ada? Secara formal tidak ada, karena sudah dilarang melalui TAP MPRS XXV/1966, tapi secara informal dalam bentuk laten dan di dalam pikiran, bisa saja masih ada. Indikasinya, masih ditemukan munculnya atribut atribut beraroma PKI. Padahal, alangkah bodohnya bila saat ini masih ada orang yang "kesengsem" atau tertarik dengan ideologi komunis, karena ideologi kiri ini sudah terbukti gagal. Komunisme sudah bangkrut. Yugoslavia pecah berkeping keping dan menjadi negara negara kecil di Balkan. Uni Sovyet pecah, Jerman Timur reunifikasi dengan Jerman Barat dan kini menjadi Jerman.

Kalaupun sekarang masih ada negara yang menganut ideologi komunis, itu tidak banyak seperti China, Kuba, dan Korea Utara. China dan Kuba pun tak sepenuhnya menerapkan komunisme dan sosialisme, karena sistem perekonomian mereka setengah terbuka, antara sosialisme dan kapitalisme. Korut yang komunis murni, lihatlah rakyatnya yang mayoritas hidup dalam kemiskinan dan ketakutan. Jadi, komunisme sudah menjadi ideologi usang dan tidak laku. Hanya bangsa bodoh yang masih menerapkan komunisme.

Jadi, sebenarnya kita tak perlu paranoia atau takut berlebihan menghadapi komunisme, karena sebagai ideologi ia sudah bangkrut. Komunisme telah mengalami seleksi alam di seluruh dunia, dan hari ini komunisme sudah tidak menarik lagi bagi bangsa bangsa di dunia, kecuali itu tadi, bangsa yang bodoh. Lalu mengapa komumisme yang sudah bangkrut itu masih ditakutkan di Indonesia? Itu tadi, bangsa ini trauma dengan peristiwa 1948 dan 1965.

Pasca G 30 S/PKI 1965, konflik horisontal melanda bangsa ini. Terjadi saling bantai antara kaum komunis dan kaum religius. Kedua, ketakutan akan bahaya komunisme sengaja diembuskan oleh kelompok kelompok tertentu untuk kepentingan politik elektoral. Isu PKI selalu diembuskan setiap menjelang pemilu. Bila sudah begini, tak ada cara lain kecuali RUU HIP bukan hanya tidak akan dibahas oleh pemerintah, dan dihentikan pembahasannya oleh DPR RI, melainkan didrop dari daftar Prolegnas 2020 2024.

Kalau dipaksakan berlanjut, jangan berharap kegaduhan yang menimpa bangsa ini akan berakhir. RUU HIP hanya akan menimbulkan kontroversi yang kontraproduktif bagi bangsa ini. Sebab, RUU HIP begitu menakutkan layaknya virus HIV.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *