Umat Muslim Boleh Ucapkan Selamat Natal, KH Imam Jazuli Jelaskan Landasan dan Rambu-rambunya

Al Quran sebagai pedoman hidup umat muslim mengabadikan ucapan selamat Natal; ucapan selamat atas kelahiran Isa alaihi salam. “Dan keselamatan untukku pada hari aku dilahirkan, hari aku meninggal, dan hari aku dibangkitkan,” (Qs. Maryam: 33). Dari sini, umat Muslim dianjurkan untuk juga mengucapkan selamat Natal atas kelahiran Isa as. Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat 33 Maryam ini adalah cara Allah menunjukkan aspek kemanusiaan Isa as.

Sebagai makhluk ciptaan Nya, yang bisa hidup, mati, dan dibangkitkan, serupa dengan makhluk makhluk ciptaan lain. Umat Muslim yang mengucapkan selamat Natal, berdasar keterangan Ibnu Katsir, berarti menegaskan akidah Islamnya tentang kemanusiaan Isa as. Berbeda halnya dengan umat Nasrani yang meyakini bahwa kelahiran, kematian, dan kebangkitan Isa sebagai bukti ketuhanannya.

Inilah Satu peristiwa yang sama namun dapat diartikan dengan dua perspektif berbeda. Namun, bolehnya umat muslim mengucapkan selamat Natal dibatasi oleh rambu rambu lain. Al Quran mengatakan, “Dan mereka orang orang (mukmin) yang tidak bersaksi palsu (zur), dan apabila bertemu dengan perbuatan tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya,” (Qs. Al Furqan: 72).

Bersaksi palsu, menurut Ibnu Katsir, adalah kesyirikan dan penyembahan berhala. Umat muslim tidak boleh bersaksi palsu, dengan mengatakan bahwa Isa adalah Tuhan atau Putra Tuhan. Jika mengucapkan selamat Natal bertujuan untuk meyakini ketuhanan Isa as maka hal itu termasuk saksi palsu yang Al Quran larang. Tafsir Ibnu Katsir memberikan batasan yang jelas tentang hukum umat muslim yang mengucapkan selamat hari Natal kepada umat Nasrani.

Selama tujuan ucapan Natal itu untuk menegaskan bahwa kelahiran Isa sebagai bukti beliau itu makhluk Tuhan, maka hukumnya boleh. Sebaliknya, jika ucapan Natal ditujukan untuk zur (syirik) maka tidak boleh atau haram. Demi kehati hatian, agar umat muslim tidak tergelincir pada pandang yang salah, Ibnu Katsir mengutip pendapat Abu Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirin, ad Dhahhak, dan Rabi’ bin Anas.

Mereka mengatakan, maksud bersaksi palsu dalam ayat 72 al Furqan adalah tidak membenarkan semua hari raya orang orang musyrik. Membenarkan Hari Natal sebagai Hari Kelahiran Tuhan Yesus adalah perbuatan salah yang dilarang Islam. Ketika keimanan dan tauhid baru ditanam, kehati hatian semacam ini sangat ditekankan oleh Rasulullah saw.

Umat Muslim dilarang terlibat dalam berbagai perayaan hari raya yang menjadi tradisi dan budaya masa Jahiliah. Rasulullah SAW membujuk umat Muslim untuk lebih menghargai hari raya agama sendiri dari pada hari raya agama lain. Sebuah hadits diriwayatkan dari Anas bin Malik ra., beliau berkata: “Nabi saw datang di Madinah, sementara penduduk Madinah mempunya dua hari raya yang mereka bisa bermain main (merayakan) keduanya. Nabi bertanya: ‘apa dua hari ini?’ Mereka menjawab: ‘ini adalah dua hari raya yang kami biasa rayakan di masa Jahiliah!’ Nabi bersabda: ‘sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik, yaitu hari raya Idul Adha dan hari raya Idul Fithri,’” (HR. Abu Daud, no. 1039; Ahmad, no. 3/103; an Nasai, no. 3/179).

Dua hari raya Jahiliah tersebut adalah Hari Raya Nairuz dan Hari Raya Mahrojan. Nairuz berarti perayaan awal tahun Syamsiah menurut agama Majuzi Persia, sedangkan Mahrojan adalah perayaan besar untuk menyambut musim terbaik. Umat Muslim diwanti wanti oleh Rasulullah SAW agar tidak ikut dalam perayaan Nairuz maupun Mahrojan ini. Kekhawatiran psikologis Rasulullah SAW sangat jelas dalam hadits di atas. Rasulullah tidak ingin melihat para sahabat merayakan dua hari raya warisan tradisi Jahiliah, dan mereka lupa bahwa Idul Fitri dan Idul Adha jauh lebih baik.

Umat Muslim pada saat itu tidak bisa dibiarkan membanggakan hari hari raya di luar tradisi Islam. Jika dibiarkan maka umat Muslim akan kehilangan kebanggaan akan tradisi Islam. Puncak kekhawatiran Rasulullah SAW tersebut pun tertuang dalam sabdanya yang lain, “Barang siapa yang meniru niru (tasyabbuh) suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka,” (HR. Abu Daud, no. 7/78; Ahmad, no. 10/123). Ikut merayakan Nairuz dan Mahrojan adalah tindakan menyerupai Majuzi, Persia. Inilah yang dilarang oleh Rasulullah SAW.

Dalam konteks kehidupan Negara Kesatuan Republik Indonesia, umat Muslim sudah bersepakat tentang Pancasila, dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Semua agama diakui secara resmi, dan dianggap benar berdasarkan kitab suci masing masing. Islam punya al Quran, Nasrani (Katolik dan Protestan) punya kitab sucinya sendiri. Mengucapkan selamat Hari Raya Natal pun harus dipahami dengan berdasarkan kitab suci agama masing masing.

“Bagi kalian agama kalian, dan bagiku agamaku,” (Qs. Al Kafirun: 6). Hari Raya Natal bagi umat muslim adalah penegasan tentang sifat kemanusiaan dan kehambaan Isa as. Jadi, tidak bertentangan dengan akidah Islam. Selain itu, Umat muslim yang mengucapkan selamat natal diartikan sebagai pengamalan atas makna Bhinneka Tunggal Ika, yakni kita bisa hidup saling menghargai dan menghormati keyakinan umat lain, tanpa harus mengubah keyakinan diri sendiri.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *