UYM Sosok Teladan Bagi Generasi Milenial Nahdliyyin

Anugerah Tuhan pada warga Nahdliyyin tidak pernah ada putusnya. Setelah menghadirkan sosok pakar literatur klasik seperti Gus Baha’, da’i seniman seperti Gus Miftah, sejarawan seperti Gus Muwafiq, ilmuan seperti Gus Nadirsyah, ada pengusaha sukses seperti Ustad Yusuf Mansur (UYM). Anugerah itu mengingatkan kompleksitas generasi milenial kita, yang enggan bergumul dengan perkara monoton. Gus gus keren dari NU ini dapat diandaikan sebagai “Waratsatul” Wali Songo, yang tidak saja seniman, ilmuan, tapi juga wirausahawan. Bukankah, dai dai muslim pada era Islamisasi awal juga para saudagar? Metode dakwah UYM lintas batas. Fokus bidang ekonomi menjadi “lingua franca”, yang bisa dipahami oleh semua orang di jaman sekarang. Menyebarkan Islam melalui dunia bisnis, usaha, perdagangan, keuangan, investasi, dan semacamnya, dapat dipahami oleh mayoritas umat secara lebih luas, lintas ormas, partai politik, bahkan suku dan pulau.

Sejatinya, figur UYM hanya representasi kecil saja. Di dunia pesantren, sepanjang sejarah, kiai kiai dan santri NU jauh sudah lama membangun ekonomi masyarakat. Ada benarnya ucapan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, yang mempersulit pencairan dana kredit bagi lembaga lembaga usaha yang terafiliasi pada NU. Kata Sri Mulyani, terlalu banyaknya unit usaha NU, melebihi angka sepuluh jutaan. UYM hanya bagian kecil. Bidang garapan dakwahnya mencontoh teladan para Wali juga para Kiai. Guru Mansur (kakek buyut UYM) juga seorang saudagar sukses di jamannya. Dengan begitu, UYM hadir melengkapi ruang ruang kosong yang belum digarap oleh Gus Baha’, Gus Miftah, Gus Muwafiq, Gus Nadir, dan lainnya. Bisnis bukan saja “lingua franca” untuk menyampaikan misi Islam. Dunia perdagangan, bisnis, investasi, dan semacamnya dapat menjadi “manhaj fikr”, yang jauh lebih kompleks dan memang sangat mendesak. Bayangkan saja, dalam masa masa pandemi Covid 19 seperti sekarang, negara tampak kewalahan. Sri Mulyani mengkhawatirkan jumlah pengangguran dan kemiskinan yang terus bertambah.

Indeks Kinerja Manufaktur (Prompt Manufacturing Index) di April 2020 sudah pada angka 27, padahal Maret masih di angka 47. Sementara itu, mayoritas warga Nahdliyyin adalah komunitas terpinggirkan secara ekonomi. Jika bukan kiai, santri, dan pesantren yang bergerak lebih cepat mendahului negara, lantas siapa lagi yang akan mengurus umat? Pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi satu satunya “bahasa” yang dibutuhkan generasi milenial. Muda mudi muslim umumnya dan warga Nahdliyyin khususnya dapat mencari figur figur teladan masing masing, termasuk seperti UYM. Membicarakan perbedaan khilafiah di bidang furu’, seperti bid’ah kurafat, khilafah versus NKRI, memang penting. Tetapi, “ilmul hal” juga penting. Ilmul Hal itu selain bertutur juga bertindak nyata untuk kebutuhan umat. Di pondok pondok pesantren diajari kitab Ta’lim Muta’allim bahwa “tolabul ilmi faridotun,” yakni “Ilmul Hal”. Ilmul Hal pada hari ini adalah pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi rakyat, melalui bisnis kreatif di segala bidang.

Gerakan pesantren UYM yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi rakyat adalah penerjemahan ajaran Ta’lim Muta’allim tentang Ilmul Hal. Yakni, suatu ilmu yang paling mendesak dalam konteks kehidupan. Jika bukan pemberdayaan ekonomi umat, lantas ilmu apa yang mendesak dalam masa merebaknya pandemi Covid 19? UYM mewarisi manhaj dakwah Guru Mansur. Tidak heran bila UYM dalam berdakwah menggarap bidang bidang di antaranya: layanan pembayaran melalui PT Verita Sentosa Internasional (PayTren), PT PayTren Aset Manajemen, kepemilikan saham di beberapa perusahaan seperti PT BRI Syariah Tbk, PT Info Media Digital, dan lainnya. Perjuangan jatuh bangun dalam dunia ini sudah dilakoninya sejak 1996. Tanpa menyerah walau badai sering menghantamnya. Pria kelahiran 19 Desember 1976 ini bagaikan “mutiara” NU yang “terlupakan”. Disebut “mutiara” karena sejak usia 20 an tahun sudah menekuni gerakan konkret yang dicontohkan Guru Mansur, buyutnya, sebagai pendakwah Islam sekaligus pengusaha. Disebut “yang terlupakan”, karena publik jarang menyadari bahwa pribadi UYM adalah kiai kultural NU. Bisnisnya untuk kepentingan dakwah Islam, seperti para kiai dan gus dari pesantren NU umumnya.

Motivasi dakwah dalam bisnis membedakan UYM dari para pengusaha lainnya. Bisnis hanya kendaraan dalam berdakwah. Tidak heran, setelah sukses di bidang bisnis investasi dan layanan keuangan, UYM mendirikan sekolah bisnis online bernama Wisata Hati Business School dan Program Pembibitan Penghafal AL Quran (PPPA) Daarul Qur’an. Bisnis, edukasi, dan dakwah Islam berpilin dengan sangat kuat. Ini perbedaan mencolok UYM dan Gus Baha’, misalnya, atau gus gus yang disebut di atas. Dalam pengertian akademik pun, UYM dapat disebut fenomena Living Quran. Penerjemahan konkret nilai nilai Quran dalam pengalaman sehari hari, dunia bisnis. Semua umat muslim sebenarnya sudah mengerti, Nabi Muhammad saw adalah seorang pebisnis sejak usia kecil hingga remaja. Baru di usia 40/43 tahun, Nabi menerima wahyu dan menjadi Rasul, kemudian sepenuhnya beralih di medan dakwah Islamiah. Perjalanan hidup UYM, dengan kata lain, adalah Living Hadits. Memulai usaha sejak tahun 1996 saat ia masih berusia 20 tahun, UYM telah memilih mendedikasikan hidupnya untuk dunia bisnis. Baru setelah memasuki usia kira kira 44 tahun seperti sekarang ini, UYM memilih terjun ke dunia pendidikan. Perjalanan hidup ini, bagi penulis yang lebih banyak mengenal kultur luar Jawa, membuat UYM layak disebut “Kiai” dalam pengertian kultur Jawa, atau sebagai “Ulama” dalam pengertian Waratsatul Anbiya’.

Terakhir, warga Nahdliyyin dalam keadaan genting dan terdesak untuk mengembangkan dunia wirausaha. Mandiri secara ekonomi, sehingga fokus beragama tidak terganggu oleh kebutuhan mencari materi. Tentu saja harus disesuaikan dengan perkembangan zaman milenial. Lebih lebih, jamaah Nahdliyyin hidup di pedesaan, pedalaman, dan wilayah wilayah yang belum mengalami urbanisasi warga Nahdliyyin Urban tidak begitu banyak di banding mereka yang di desa desa. Pemberdayaan ekonomi umat adalah urusan “dharuriyah” yang tidak bisa ditawar lagi; sebuah keniscayaan yang menuntut program kerja dan realisasinya sesegera mungkin. Wallahu a’lam bis shawab. *Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se Indonesia); Pengurus BesarNahdlatulUlama(PBNU) Periode 2010 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *