Jika para pengusaha lain mengalami kerugian selama masa pandemi COVID 19, hal berbeda justru terjadi pada Amalia. Toko online macramé Dewa Collection Bali miliknya justru mengalami peningkatan penjualan hingga 450 persen. Kemajuan tersebut tak didapatkan Amalia secara instan, banyak hal yang harus ia tempuh hingga akhirnya tokonya sukses seperti sekarang. Bisnis online ini sendiri dibangun atas kegelisahan Amalia yang tak bisa berkembang jika hanya bekerja di kantor saja.

“Awalnya saya ikut bekerja di tempat orang (pengusaha macramé ), namun tinggal di kota besar dan gaji yang kecil saya berpikir tidak mungkin juga kalau harus begini terus terusan. Akhirnya saya punya inisiatif untuk berjualan online pada awal 2017,” ujarnya Amalia. Ia dan suami pun akhirnya berhenti bekerja demi bisa fokus membangun bisnis Dewa Collection Bali. Dewa Collection Bali adalah toko online yang menjual berbagai produk tentang macramé , seperti sarung bantal, ayunan, gantungan kunci, hiasan dinding, pot tanaman dan masih banyak lagi. Macramé sendiri adalah seni menganyam benang atau tali menjadi sebuah produk kerajinan.

Dalam proses pembuatannya, Amalia mengaku membuatnya sendiri dan dibantu oleh karyawan di Bali, dan di Nganjuk, Jawa Timur. “Sekarang sehari saya bisa bikin 2 3. Kalau mitra pengrajin, karena sudah lama dan pro, dalam 1 hari minimal mereka bisa menyelesaikan 2 produk berukuran besar,” ujar Amalia. Soal harga, produk macramé Dewa Collection Bali dijual beragam, mulai dari Rp8.500 untuk gantungan kunci hingga jutaan rupiah untuk dekorasi pernikahan. Pada awal membangun bisnis online , Amalia hanya menggunakan media sosial Instagram. Namun karena merasa tidak aman dan takut ditipu, ia pun akhirnya hijrah berjualan di marketplace .

“Saya awalnya jualan di Instagram, tapi suatu hari saya lihat tentang penipuan di Instagram. Terus saya pikir menakutkan juga yah. Nah dari situ saya mikir coba bikin toko online di marketplace . Karena waktu itu saya sering belanja onlin e, terus saya mikir coba ah jualan, masa beli beli terus,” terang Amalia. Semenjak berjualan di marketplace , ia mengaku kini dirinya dan pembeli merasa lebih aman. Bahkan kini seluruh penjualan online Dewa Collection Bali dipusatkan di marketplace . Dari situ jalan berliku mulai dihadapi Amalia. Mulai dari jumlah pesanan yang hanya 1 2 saja per harinya, telat mengirimkan pesanan akibat jumlah karyawan yang belum banyak, belum lagi ia sendiri yang harus packing dan membalas chat pembeli serta menerima pesanan.

Dari situ ia tak pernah mengeluh dan selalu bekerja keras, serta terus memperbaiki diri dengan terus memperbaharui tampilan foto produk. Ia juga rutin mengunggah produk produk baru, memberikan rincian yang mendetail tentang produk yang ia jual, hingga terus sabar dan cepat menjawab pertanyaan pertanyaan pembeli, sampai akhirnya pandemi Covid 19 melanda Indonesia. Pandemi membuat Amalia berpikir ribuan strategi untuk membuat toko daringnya tetap diminati pelanggan. Dari situ Amalia berpikir untuk menurunkan harga dari produk yang dijualnya.

“Saya mikir gimana kalau harganya dikurangi aja dan kasih diskon karena konsumen pasti ada yang dirumahkan dan mengalami kesulitan finansial. Siapa tau mereka mau belanja tapi uangnya tak cukup akibat Covid 19. Jadi saya dan pembeli sama sama diuntungkan,” ujar Amalia. Setelah mengurangi harga, Amalia juga mengaktifkan fitur cashback , promo diskon serta gratis ongkos kirim. Setelah menerapkan trik tersebut, penjualan Dewa Collection Bali pun meningkat sebanyak 450 persen. Jika dulu pesanan hanya 1 2 saja, kini setiap harinya minimal terdapat 10 pemesanan di toko online Amalia. Dari segi omzet pun Amalia mengaku juga ikut naik.

Amalia mengaku, kesuksesan ini tentu tak lepas dari kehadiran marketplace Tokopedia. Pasalnya, produk produk Dewa Collection Bali bisa dipasarkan ke seluruh Indonesia dan pelanggan Amalia pun berdatangan dari segala penjuru. Respon positif selalu ia terima dari pelanggannya, bahkan banyak diantaranya yang membeli kembali. “Pembeli saya tersebar di seluruh Indonesia, walaupun begitu banyak pesanan yang berasal dari Jakarta dan Bandung. 90 persen konsumen saya pun mengaku puas. Kebanyakan dari mereka repeat order walaupun harga toko lain jauh lebih murah. Itu karena mereka sudah langganan, percaya dan katanya suka dengan sikap saya yang selalu ramah terhadap mereka,” ujar Amalia.

Melihat hasil yang seperti ini, Amalia mengaku senang, apalagi menurutnya ia masih bisa mempekerjakan orang lain pada masa pandemi ini. “Ini memberikan kebahagian tersendiri buat saya,” kata Amalia. Menurut Amalia, dalam membangun bisnis banyak orang yang menggebu gebu tapi setelah hasil tak sesuai dengan bayangan, mereka langsung menyerah. “Orang tuh kadang awal awalnya menggebu gebu tapi setelah 1 2 bulan dia itu ga dapat apa yang dia inginkan jadi dia langsung down . Jadi jangan kayak gitu, dan tetep semangat. Saat saat bulan pertama berjualan hanya ada 1 pembeli saja, tapi saya tetap tidak patah semangat,” ujar Amalia.

Dari situ, Amalia mengaku dirinya terus melakukan evaluasi untuk melihat kesalahan apa yang ia buat, misalnya dalam hal foto produk, detail produk, hingga terus aktif dengan mengunggah produk produk terbaru di toko onlinenya. “Dan yang terpenting jika ada chat masuk harus segera dibalas, kan kalau konsumen nunggu terlalu lama nanti dia chat di tempat lain dan dibales ditempat lain, eh jadinya kecantolnya di tempat lain,” terang Amalia. Selain cepat, Amalia juga menyarankan untuk tetap sabar dan jangan malas dalam membalas setiap pertanyaan yang selalu ditanyakan konsumen, walaupun tentang produk termurah sekalipun.

“Jangan malas tetap semangat. Ngapain sih kita malas, lewat HP saja kita cuma tinggal balas, tinggal upload produk. Itu kan bukan pekerjaan yang berat. Kita bisa sambil ngapain aja, tiduran, nonton TV. Pokoknya jualan online itu yang paling enak menurut saya, gak cape. Selain itu, sabar menghadapi konsumen, dibikin enjoy gak usah memaksakan diri malah jadi beban dan malah bikin down . Yang penting itu usaha karena usaha dan hasil tak pernah berkhianat,” tutup Amalia.