5 Tips Hadapi Resesi di Depan Mata Agar Kondisi Keuangan Aman

Resesi dipastikan akan terjadi pada perekonomian Indonesia di kuartal III tahun 2020. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi di kisaran minus 2,9 persen hingga minus 1 persen. Sebelumnya pada kuartal II lalu, pertumbuhan ekonomi minus 5,32 persen.

Lantas apa yang harus dilakukan sebagai individu untuk menghadapi masa sulit karena resesi akibat pandemi Covid 19? Perencana keuangan atau financial planner , Mimien Soesanto, menyarankan agar tetap membelanjakan uang namun dengan banyak pertimbangan. Mimien menilai ekonomi akan keluar dari jurang resesi jika roda perekonomian tetap berjalan.

"Memang cash is a king , namun jangan berhenti membelanjakannya, namun dengan banyak perhitungan," ungkapnya. Berikut 5 tips menurut Mimien agar finansial tetap aman di masa resesi : Mimien menyebut ada baiknya setiap orang memiliki tabungan dana darurat.

"Selama tujuh bulan pandemi mungkin dana darurat tergerus, tapi kita harus tetep menabung karena kita tidak tahu ke depan seperti apa," kata Mimien. Dengan adanya dana darurat, Mimien menyebut akan lebih tenang dalam menjalani kehidupan sehari hari. Selanjutnya, Mimien menyarankan agar masyarakat bisa mengurangi pengeluaran bulanan.

Masyarakat dinilai harus bisa memotong pengeluaran bulanan yang tidak perlu "Yang dulu kalau belanja makanan yang agak berlebihan, kita harus lebih kreatif, misalnya memasak sendiri," ungkapnya. Selain itu, Mimien juga menyarankan agar tak mudah tergiur berperilaku konsumtif.

"Karena pandemi lebih banyak di rumah, banyak sekali melihat promo di online shop, coba untuk direm, dipikirkan kembali apakah itu kebutuhan atau keinginan, harus dipisahkan," jelas Mimien. "Istilahnya pakai akal sehat kalau berbelanja," imbuhnya. Tips ketiga yang disampaikan Mimien ialah tetap memiliki asuransi yang memadai.

Mimien menyebut segala sesuatu bisa terjadi di luar rencana. "Sehingga di keadaan yang tidak menentu dapat menimbulkan banyak risiko yang memengaruhi kondisi ekonomi sebuah keluarga," jelasnya. Mimien menilai paling tidak harus memiliki asuransi kesehatan.

"Asuransi yang penting dimiliki adalah asuransi kesehatan, risiko sakit di luar Covid 19 tetap ada di masa pandemi," ujarnya. "Misal usus buntu, biaya RS bisa mencapai Rp 30 juta," imbuhnya. Sementara itu jika terpapar Covid 19, biaya sudah menjadi tanggungan pemerintah.

"Kalau kita tidak punya asuransi kesehatan yang memadai, akan membebani keuangan keluarga jika nanti sakit," ungkap Mimien. Selain asuransi kesehatan, Mimien menilai kepala keluarga sebaiknya memiliki asuransi jiwa. "Untuk pencari nafkah utama, harus melindungi ekonomi keluarganya karena apapun bisa terjadi," ujar Mimien.

Kemudian Mimien menyarankan agar sebisa mungkin segera menyelesaikan hutang dengan bunga tinggi. "Kalau kita punya hutang berbunga tinggi, atau hutang konsumtif, sebisa mungkin untuk dilunasi," ungkapnya. "Hutang berbunga tinggi bisa membebani cashflow keluarga," katanya.

Mimien menyebut penyelesaian hutang bisa dengan cara mencairkan aset atau menggunakan tabungan untuk menutupnya. "Kalau belum memiliki hutang berbunga tinggi, jangan diambil," imbuh Mimien. Memiliki sumber penghasilan lain dinilai Mimien bisa membantu mengamankan keuangan di masa sulit.

"Sebisa mungkin meningkatkan penghasilan kita dari sumber lain," ungkapnya. Mimien menyebut sumber lain bisa dimulai dari keahlian yang dimiliki. "Misal kita hobi masak, kita masak kemudian kita pasarkan," ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *