Suku Pengembala Rusa Terakhir yang Ada di Mongolia Makna Rusa Bagi Suku Dukha

Suku Dukha merupakan suku nomaden yang hidup di wilayah Mongolia. Suku ini diketahui seabagai sebagai suku nomaden terakhir di dunia yang menggembala rusa. Suku Dukha hidup berpindah pindah tempat dan mengikuti kemanapun rusa gembalaannya pergi.

Rupanya, ini juga berhubungan dengan makna rusa bagi orang Mongolia. Selama ribuan tahun, suku Dukha sudah tinggal di wilayah bagian utara negara Mongolia, tepatnya di Taiga. Selama ribuan tahun pula, suku Dukha sudah menggembala dan beternak rusa.

Di Mongolia, ada mitologi yang menceritakan tentang rusa. Orang Mongolia mempercayai kalau rusa adalah makhluk mistis. Rusa dipercaya membawa arwah dari orang yang mereka sayangi.

Namun, orang Mongolia juga jarang bertemu rusa karena rusa memilih tinggal di tempat yang jarang ditinggali manusia, yaitu di wilayah pegunungan yang masih asli suasana alamnya. Nah, suku yang menggembala rusa seperti suku Dukha berpindah pindah sesuai dengan arah rusa bergerak pergi. Ini disebabkan oleh rusa yang mengikuti pertumbuhan padang rumput.

Saat musim dingin, suhu di Taiga bisa mencapai minus 40 derajat Celcius. Namun, suku Dukha tetap senang merawat para rusa. Karena rusanya berukuran besar, rusa di Mongolia ini juga dijadikan alat transportasi, sementara susunya dikonsumsi para penggembala.

Dahulu ada banyak suku yang memiliki gaya hidup seperti suku Dukha, yaitu hidup berpindah pindah sambil menggembala rusa. Namun, sekarang suku Dukha jadi suku terakhir di dunia yang memiliki gaya hidup seperti ini. Jumlah keluarga orang Dukha yang menggembala sambil berpindah ini menurun di tahun 1980 an.

Sutradara film dan penulis Sas Carey menulis buku tentang budaya menggembala dan nomaden masyarakat Mongolia. Bukunya berjudul Reindeer Herders in My Heart: Stories of Healing Journeys in Mongolia. Kini hanya ada 23 keluarga yang menjadi penggembala rusa sekaligus hidup nomaden.

Namun jumlah rusa gembalanya meningkat jadi sekitar 2.000 ekor rusa. Menurut anggota suku Dukha, mereka masih melakukannya karena leluhur mereka juga nomaden dan menggembala. Nomaden dan menggembala bukan sekadara gaya hidup, namun sudah menjadi tradisi dan budaya turun temurun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *